Social Icons

Tuesday, October 16, 2012

Kenapa Harus Bercita - Cita

Kenapa dan Bagaimana Kita Harus Bercita - Cita ?

Sering kita mendengar ungkapan “jangan bercita-cita terlalu tinggi, nanti kalo jatuh sakit”. Tentu bila hal ini kita yakini dan menjadi alasan pembenaran agar kita tidak mempunyai cita-cita yang besar, maka akan sangat berbahaya apalagi bagi generasi muda. Sayang sekali kalau mereka harus hilang hanya karena masalah takut bercita-cita padahal mereka mempunyai potensi luar biasa yang mampu mengubah dunia. Mereka hilang karena pasrah atau menyerah pada nasip. Atau potensi mereka hilang karena terlena dalam kenyamanan . Bagaimanakah sebenarnya kita harus bercita-cita?
Lihatlah doa kita baca tiap hari .
“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yun waj’alnaa lilmuttaqiinaa imaamaa”
” Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati ( kami ), dan jadikanlah kami PEMIMPIN bagi orang-orang yang bertaqwa “. (QS Al Furqan:74). Lihatlah bagaimana Allah mengajarkan kita agar menjadi seorang pemimpin, menjadi sorang panutan. Artinya Allah menyuruh kita untuk tidak menjadi orang yang tanggung-tanggung. Bila engkau mampu menjadi lentera badai lantas kenapa hanya mencoba untuk menjadi lilin. Bila engkau mampu menjadi seperti matahari yang dapat memberi manfaat kepada semesta lantas kenapa engkau memohon hanya untuk menjadi lampu kota.
Juga lihatlah bagaimana Rosullulah mencontohkan kita untuk memohon surga, dalam hadits yang sudah kita ketahui bersama. Rasulullah S.A.W bersabda,”Sesungguhnya di surga terdapat 100 tingkatan yang disediakan Allah bagi yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara satu tingkat dengan tingkatan yang lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kalian minta kepada Allah mintalah Surga Firdaus. Sesungguhnya Firdaus itulah tempat terbaik dan tertinggi derajatnya. Di atas Firdaus terdapat Arsy Allah dan dari situ mengalir sungai-sungai surga ” (HR. Bukhari). Surga Firdaus, adalah surga yang paling tinggi derajatnya yang terletak di bawah Arsy Ar-Rahman. Rosulallah mencontohkan kita untuk memohon surga terbaik. Artinya kita diajarkan untuk meminta kepada Allah sesuatu yang tinggi.
Dalam sirah yang sering kita dengar bahwa saat penggalian parit pada perang khondak para sahabat hampir menyerah lantaran ada batu besar yang tidak mampu mereka pecahkan. Tapi bagaimanakah Rosulallah melihat masalah ini? Ia mengambil kapak lalu memukul batu itu seraya berkata “ Allahhuakabar.. “U’titu mafatiha faris, akan ada dari ummatku yang akan menaklukan Faris. Dan pada pukulan ke dua berteriak “Allahuakbar, U’titu mafatiha Ar-Ruum, Romawi pun akan takluk”. Terlihat bahwa dalam kondisi yang berat pun, Rasulallah bukan hanya mengajarkan kita untuk selalu optimis dan tidak menyerah, tapi mengajarkan agar kita punya cita-cita yang tinggi ? Lantas kenapa saat ini kita takut untuk bercita-cita (misalnya) “menaklukkan” sekolah-sekolah baik seperti di Mekkah, Mesir, Jepang, Amerika atau Australia? Bila Roma saja telah ditaklukkan.
Ada hal penting lain yang tidak boleh dilupakan setelah kita punya cita-cita atau mimpi. Bila kita telah punya mimpi yang tinggi, selanjutnya adalah mengapa kita bercita-cita (misalnya) ingin menjadi ini atau itu, ? Dan bila (Alhamdulillah) apa yang diimpikan sudah tercapai, selanjutnya apa? Kalo sudah jadi pengusaha sukses trus mengapa? Kalo udah lulus kuliah dari Australia, Amerika, Jepang dan punya jabatan trus? So what?..
Kita harus punya alasan kuat untuk apa yang akan kita cita-citakan. Karena perjuangan untuk meraih mimpi tidaklah mudah. Bila alasan untuk bercita-cita tidak benar, maka dalam perjalanan kita akan mudah futur atau kecewa. Ketika kuliah hanya untuk mencari nilai, maka kita akan sedih setengah mati bila nilai tidak sesuai harapan, seolah-olah nilai adalah segalanya. Bila sekolah (misalnya) niatnya agar kaya, kita mungkin akan tidak enak hati melihat teman kita yang tidak sekolah tapi kaya raya. Atau akan menyalahkan sekolah aau jurusan yang telah kita pilih bila ternyata setelah lulus gaji atau pekerjaan tidak sesuai harapan. Tentu tidak ada yg salah dengan menjadi kaya, kaya itu dianjurkan. Salah bila kaya menjadi tujuan.
Alasan untuk bercita-cita hendaknya adalah alasan karena Allah dan alasan yang berorentasi akhir akhirat. Bila ini yang menjadi alasan, misalnya, ketika seseorang menghadapi cobaan yang dirasa berat dalam berjuang menunutu ilmu, maka ia akan tetap semangat lantaran ia tahu bahwa Allahlah yg menyuruh untuk menuntut ilmu. Sehingga ia yaqin bahwa Allah akan senatiasa bersamanya, mencukupi rezeki, menolong, menunjukkan jalan dan memampukan ia untuk meraih yang ia cita-citakan. Ia tahu bahwa ia Punya Allah, penguasa alam semesta yang maha pengasih dan penyayang. Pengabul doa. Bayangkan juga bila kita salah orentasi. Misalkan kita bercita-cita hanya karena orentasi dunia. Lalu kita mati dalam perjalanan meraih cita-cita itu.
Begitu pula ketika kita merasa bahwa kita telah berhasil dan telah meraih apa yg dicita-citakan, seperti kita telah jadi pengusaha sukses, kita telah jadi sarjana, kita telah punya jabatan tinggi. Bila salah niatan ( utk hanya kesenangan diri misalnya) maka akan terjadi seperti yang dikatakan HAMKA :
”Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan
diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ”mati”, sebab dia bukan
orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk
mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mampunyai cita-cita, lain dari pada
kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa
dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan
menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup”
Orang yang berorentasi akhir akhirat sadar bahwa keberhasilan adalah amanah yang ia emban yang dapat mengantarkannya ke surga bahkan dapat menjerumuskanya ke neraka. Ketika seseorang dianugrahkan suatu keberhasilan meraih mimpi (lulus sarjana, meraih jabatan, harta dll) sebenarnya Tuhan ingin agar dengan keberhasilan itu orang tersebut menjadi jalan kebahagian dan kesuksesan ciptaan-ciptaan Tuhan yang lain, sehingga rahmat Tuhan dapat tersebar keseluruh semesta. Ia mengerti bahwa dengan jabatan tinggi ia mampu untuk ber “amar makruf nahi munkar” lebih besar. Mereka sadar ketika ia mati ia akan membawa amal kebajikan. Sadar bahwa ketika mati ia akan membawa apa telah yg ia beri.
Orang yang bercita-cita dengan orentasi akhirat sejatinya ia tidak akan pernah berhenti bercita-cita. Ia akan terus berusaha meraih capaian-capaian kebaikan, bahkan sampai ia mati. Karena ia tak pernah tahu apakah akhirat (surga) yang ia cita-citakan layak Allah berikan kepadanya.
Mimpi seperti kemudi. Ketika kita punya mimpi kita akan punya arah hidup. Waktu kita akan terisi dengan kegiatan-kegiatan, perjuangan-perjuangan, dan pencapaian-pencapain. Bayangkan bila kita tidak punya mimpi. Kita akan berpeluang besar mengabiskan waktu, tenaga dan fikiran untuk sesuatu yang sia-sia. Kita bisa menjadi bimbang tak tau esok mau melakukan apa. Ya, karena tak punya mimpi. Tak tak tahu mau dibawa kemana hidup kita.
Yang jelas mudah untuk mengukir mimpi, mudah untuk menulis apa yang kita cita-citakan dalam papan kertas lalu di tempel di dinding. Mudah untuk membuat agenda. Tapi untuk pelaksanaan, semua itu butuh perjuangan. Pastilah akan ada ujian dalam perjalanan, akan ada pengorbanan-pengorbanan atau bahkan air mata. Tapi sekali lagi, kita Punya Allah yang maha besar, zat pengabul doa yang senantiasa bersama kita. Ia maha kasih, maha penyayang. Penguasa alam semesta
Tentu ada alasan-alasan kenapa Tuhan memberi amanah yang luar biasa kepada kita yag bahkan langit, bumi dan gunung-gunung tak sanggup memikulnya. Karena pastilah untuk mengemban amanah yang besar itu Tuhan juga telah manganugerahakan potensi yang luar biasa kepada manusia. Ada kemampuan besar yang belum kita tunjukkan. Ada potensi yang belum kita kembangkan. Ada keberanian yang belum kita keluarkan
Mari ukir mimpi, dan temukan alasan untuk mimpi kita. Perjuangkan dengan segenap tenaga. Hiasi dengan keikhlasan dan kesabaran. Pupuk dengan Do’a dan tawakal

No comments: